Dalam Islam menjadikan hamba sahaya tidak berlaku mutlak dari segala sisinya. Perbudakan hanya pemanfaatan tenaga sang budak. Keberadaan budak dalam Islam tidak pernah hilang (dihapus), karena ini merupakan solusi yang ditawarkan Islam ketika terjadi peperangan.
Walaupun hukum tentang perbudakan tetap ada, tetapi status budak dalam Islam sudah tidak ada karena tidak adanya perang. Secara tidak langsung perbudakan itu lenyap dari ranah Islam.
Didunia barat perbudakan hilang tetapi dalam tataran yang ada tetap ada diskriminasi ras. Padahal jauh sebelum Barat menghapus perbudakan, Nabi Saw. telah memulai dahulu dengan pengangkatan bilal sebagai pemimpin. Perbudakan hanta terjadi dalam ranah undang-undang peperangan semata. Peperangan motif (al-din) yang hanya bisa memberlakukan hal ini bukan pepeeangan yang motifnya kebangsaan. Bukti lain Islam menghapus perbudakan adalah ketika Sayidina Umar merebut Persi, beliau mendapatkan tiga wanita tokoh persi. Beliau sangat memuliakannya dan ketika itu tiga wanita ini dimerdekakan. Beliau menikahkan mereka dengan keturunannya, dan keturunan Sayidina Ali Ra.
Fakta sejarah bahwa Islam dituduh suka berperang padahal dunia Islam selalu terjajah. Indonesia misalnya dijajah 350 tahun oleh belanda. Ketika ingin bangkit dituduh suka berperang, ini sangat ironis sekali. Tidak ada satu negara dengan penduduk Islam terbesar menjajah bangsa lain bahkan sebaliknya dunia Islam yang terjajah.
Ekspedisi Rosulullah Saw. Mengirim beberapa orang untuk mencegat rombongan dagang karena dilatarbelakangi rencana mereka yang ingin memboikot perekonomian madinah dan pengembalian hak kaum muhajirin yang telah mereka rampas dimekkah. Islam diklaim sebagai agama kejam padahal dalam kenyataan, dunia barat memperluas daerah jajahan dengan menancapkan statusnya dinegara lain dengan slogan mereka GOLD (pencarian kekayaan), GLORY (perluasan daerah kekuasaan) dan GOSPEL (penyebaran agama kristen). Tidak ada satu negeri yang mengecamnya padahal sudah melebihi batas kewajaran secara hak-hak asasi manusia
Ketika menafsiri ayat perang seyogyanya kita bandingkan dahulu dengan beberapa keterangan yang lain yang bersumber pada Al-qur'an dan Hadits sehingga tidak didapatkan pemahaman yang parsial yang lebih memojokkan Islam. Contoh saja tidaklah mesti ditafsiri dengan pedang, bisa juga dengan pedang kebenaran. Ayat dalam Al-qur'an yang menjelaskan tentang peperangan lebih sedikit dibandingkan dengan ayat yang menerangkan tentang toleransi. Ini sebagai bukti bahwa Islam lebih mencintai kerukunan dari pada peperangan.
Dalam Islam penindakan kepada sesuatu kemungkaran tidaklah boleh dilakukan secara semena-mena tetapi harus melalui prosedur yang telah ditetapkan syari'at.
|| Baca juga : alasan memilih pesantren dari pada kos
Ini diartikan bahwa kemungkaran diberantas haruslah sesuai dengan undang-undang yang berlaku di setiap negara. Contoh saja di Indonesia maka yang berkewajiban menghentikan adalah aparat penegak hukum, bukan setiap peibadi yang memiliki tangan (kekuasaan) berhak menindaknya.
Salah satu sisi Islam lebih toleran tergambar dalam perjanjian Hudaibiyyah, walaupun perjanjian tersebut banyak menyudutkan dan merugikan Islam, maka Nabi Saw. Menerima dengan lapang dada. Sebelum Nabi Saw. datang ke madinah, Madinah merupakan tempat perekonomian strategis, yaitu perlintasan jalur sutra Cina, sehingga perekonomiannya sudah mapan. Kaum orientalis yang menyebutkan madinah didirikan oleh Rasulullah Saw. dari hasil jarahan adalah sesuatu yang tidak berdasar. Tidak mungkin perekomian yang sudah mapan, kemudian menjarah harta milik orang lain. Nabi Saw. dimadinah tidaklah mendirikan negara Islam.
Merampas hak orang lain merupakan suatu kekejaman, tapi yang dilakukan kaum muslim adalah mengambil hak yang telah dirampas oleh kaum Quraisy diMekkah. Kalau dibandingkan kekejamam orang barat yang telah mengorbankan anak sendiri untuk disalib sebagai penebus dosa adalah suatu kejahatan yang sangat kejam sekali. Contoh lain adalah perang yang dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa Asia dengam dasar penghapusan status quo suatu rezim, padahal hanya mencari ladang minyak untuk kebutuhan dalam negeri adalah suatu kekejaman dibalik kekuasaannya.
DiIndonesia, pernah terjadi perampasan yang dilakukan oleh umat Islam. Yaitu ketika merampas tiang yang akhirnya dijadikan saka masjid Demak dari Raja Grindra Wardana. Sebenarnya tiang itu adalah hak umat Islam (Raden Fatah). Jika umat Islam kejam dan suka berperang (membunuh) maka niscaya pada peristiwa Badr, umat Islam akan membunuh semua orang kafir, karena pada waktu itu umat muslim memdapat bantuan malaikat sebanyak 5000, tetapi dalam kenyataannya korban dari pihak kafir hanya 70 orang, sedangkam dari pihak muslim hanya 13-14 orang.
Wallahu 'A'lam
(Sumber: Secercah Tinta)
Walaupun hukum tentang perbudakan tetap ada, tetapi status budak dalam Islam sudah tidak ada karena tidak adanya perang. Secara tidak langsung perbudakan itu lenyap dari ranah Islam.
Didunia barat perbudakan hilang tetapi dalam tataran yang ada tetap ada diskriminasi ras. Padahal jauh sebelum Barat menghapus perbudakan, Nabi Saw. telah memulai dahulu dengan pengangkatan bilal sebagai pemimpin. Perbudakan hanta terjadi dalam ranah undang-undang peperangan semata. Peperangan motif (al-din) yang hanya bisa memberlakukan hal ini bukan pepeeangan yang motifnya kebangsaan. Bukti lain Islam menghapus perbudakan adalah ketika Sayidina Umar merebut Persi, beliau mendapatkan tiga wanita tokoh persi. Beliau sangat memuliakannya dan ketika itu tiga wanita ini dimerdekakan. Beliau menikahkan mereka dengan keturunannya, dan keturunan Sayidina Ali Ra.
Fakta sejarah bahwa Islam dituduh suka berperang padahal dunia Islam selalu terjajah. Indonesia misalnya dijajah 350 tahun oleh belanda. Ketika ingin bangkit dituduh suka berperang, ini sangat ironis sekali. Tidak ada satu negara dengan penduduk Islam terbesar menjajah bangsa lain bahkan sebaliknya dunia Islam yang terjajah.
Ekspedisi Rosulullah Saw. Mengirim beberapa orang untuk mencegat rombongan dagang karena dilatarbelakangi rencana mereka yang ingin memboikot perekonomian madinah dan pengembalian hak kaum muhajirin yang telah mereka rampas dimekkah. Islam diklaim sebagai agama kejam padahal dalam kenyataan, dunia barat memperluas daerah jajahan dengan menancapkan statusnya dinegara lain dengan slogan mereka GOLD (pencarian kekayaan), GLORY (perluasan daerah kekuasaan) dan GOSPEL (penyebaran agama kristen). Tidak ada satu negeri yang mengecamnya padahal sudah melebihi batas kewajaran secara hak-hak asasi manusia
Ketika menafsiri ayat perang seyogyanya kita bandingkan dahulu dengan beberapa keterangan yang lain yang bersumber pada Al-qur'an dan Hadits sehingga tidak didapatkan pemahaman yang parsial yang lebih memojokkan Islam. Contoh saja tidaklah mesti ditafsiri dengan pedang, bisa juga dengan pedang kebenaran. Ayat dalam Al-qur'an yang menjelaskan tentang peperangan lebih sedikit dibandingkan dengan ayat yang menerangkan tentang toleransi. Ini sebagai bukti bahwa Islam lebih mencintai kerukunan dari pada peperangan.
Dalam Islam penindakan kepada sesuatu kemungkaran tidaklah boleh dilakukan secara semena-mena tetapi harus melalui prosedur yang telah ditetapkan syari'at.
|| Baca juga : alasan memilih pesantren dari pada kos
Ini diartikan bahwa kemungkaran diberantas haruslah sesuai dengan undang-undang yang berlaku di setiap negara. Contoh saja di Indonesia maka yang berkewajiban menghentikan adalah aparat penegak hukum, bukan setiap peibadi yang memiliki tangan (kekuasaan) berhak menindaknya.
Salah satu sisi Islam lebih toleran tergambar dalam perjanjian Hudaibiyyah, walaupun perjanjian tersebut banyak menyudutkan dan merugikan Islam, maka Nabi Saw. Menerima dengan lapang dada. Sebelum Nabi Saw. datang ke madinah, Madinah merupakan tempat perekonomian strategis, yaitu perlintasan jalur sutra Cina, sehingga perekonomiannya sudah mapan. Kaum orientalis yang menyebutkan madinah didirikan oleh Rasulullah Saw. dari hasil jarahan adalah sesuatu yang tidak berdasar. Tidak mungkin perekomian yang sudah mapan, kemudian menjarah harta milik orang lain. Nabi Saw. dimadinah tidaklah mendirikan negara Islam.
Merampas hak orang lain merupakan suatu kekejaman, tapi yang dilakukan kaum muslim adalah mengambil hak yang telah dirampas oleh kaum Quraisy diMekkah. Kalau dibandingkan kekejamam orang barat yang telah mengorbankan anak sendiri untuk disalib sebagai penebus dosa adalah suatu kejahatan yang sangat kejam sekali. Contoh lain adalah perang yang dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa Asia dengam dasar penghapusan status quo suatu rezim, padahal hanya mencari ladang minyak untuk kebutuhan dalam negeri adalah suatu kekejaman dibalik kekuasaannya.
DiIndonesia, pernah terjadi perampasan yang dilakukan oleh umat Islam. Yaitu ketika merampas tiang yang akhirnya dijadikan saka masjid Demak dari Raja Grindra Wardana. Sebenarnya tiang itu adalah hak umat Islam (Raden Fatah). Jika umat Islam kejam dan suka berperang (membunuh) maka niscaya pada peristiwa Badr, umat Islam akan membunuh semua orang kafir, karena pada waktu itu umat muslim memdapat bantuan malaikat sebanyak 5000, tetapi dalam kenyataannya korban dari pihak kafir hanya 70 orang, sedangkam dari pihak muslim hanya 13-14 orang.
Wallahu 'A'lam
(Sumber: Secercah Tinta)
Bagikan
Islam (Bukan) Negara Perang
4/
5
Oleh
mashadi

13 komentar
Tulis komentarthanks share gan..
Replysangat bermanfaat
Setuju Islam bukan negara perang
ReplyNice Artikel gan :D
ReplyNice gan
ReplyYang bikin perang cuma oknum2 tertentu aja gan, miris T.T
ReplyTrims gan atas kunjungannya
Replynice atas info ya
ReplyTrimakasih gan
Replysaya setuju gan, hanya pihak-pihak tertentu yang menyalahgunakan kata islam untuk tujuannya sendiri
Replybener banget tuh gan, banyak banget yang memandang islam agama teroris dan sebagainya, nice share
Replymakanya gan ane gak mau karena mereka kita yang jadi jelek,
Replysemoga manfaat ya gan
Mass hadee keren http://bit.ly/1J89bZh
Replynambah informasi nih mas :)
Reply