Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajarlah dari Seekor Cicak

waskhas.com
https://themilcents.files.wordpress.com/2017/04/lizard.jpg?w=768

Akhir-akhir ini tempat saya tinggal banyak sekali cicak berlalu lalang, terlebih malam hari entah mereka sedang mencari makan atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Kebetulan bulan Februari ini adalah musim penghujan, dimana biasanya Laron keluar untuk mencari kehangatan. Laron sendiri merupakan rantai makanan bagi hewan dengan nama latin Cosymbotus Platyrus itu.

Seperti yang dikutip Kumparan bahwa laron merupakan rayap tanah yang bermetamorfosis yang memiliki dua sayap yang panjang sayapnya melebihi tubuhnya sendiri. Pada musim penghujan seperti ini laron akan mencari tempat yang lebih hangat yaitu mencari sumber cahaya seperti hal nya lampu bohlam. Selain mencari kehangatan, laron biasanya akan melakukan ritual untuk mencari pasangan agar membentuk koloni baru.

Maka tidak heran mungkin cicak sedang mencari mangsanya dimusim penghujan ini dan laron adalah salah satu rantai makanan bagi cicak selain nyamuk. Gak usah bilang "kasian ya ke laron nya, mereka kan keluar untuk mencari kehangatan dan ingin mancari pasangan". Perlu diketahui juga tidak semua laron akan mendapatkan pasangan, bagi mereka yang gagal mendapatkan pasangan akan mati dengan sendiriya sebelum fajar terbit dan bagi mereka yang mendapatkan pasangan akan meninggalkan sayapnya kemudian mencari tempat untuk menciptakan koloni  baru. 

"Ini baru kasian, udah jomblo matinya cepat pula,...heheh".

Kembali ke cicak. 
Dalam benak saya, cicak itu hebat lho. Dengan habitat nya di dindingmereka bisa mendapatkan makanan nya yang notabenya adalah hewan yang bisa terbang. Sebenernya sih habitat nya tidak hanya di dinding saja, cicak adalah hewan yang pintar beradaptasi bisa hidup dimana saja. Maka tidak mengherankan filosofi cicak sangat erat bagi suku Batak.

Menurut saya cicak adalah hewan yang sabar. Mereka rela menunggu datang nya mangsa untuk dapat disantap kapan saja. Seperti lirik lagu, "Cicak cicak di dinding, diam diam merayap" mereka berkamuflase seolah hanya diam tanpa gerak dan ketika nyamuk atau laron mendekat "haap lalu ditangkap". 

Terkadang saya amati, saat saat tertentu cicak yang biasanya kita lihat didinding mereka rela turun dalam keadaan sepi untuk memangsa serangga serangga lain yang tidak bisa terbang. Mungkin mereka berfikir bosan kali yaaa, masa makan nyamuk mulu sekali-kali cari yang enak lah. Namanya mencari sesuatu yang enak, maka resiko juga harus besar. 

Bahaya akan lebih besar saat cicak berada di lantai, bagaimana tidak kucing akan siap kapan saja menyantap sang cicak bila dia lengah atau bahkan manusia bisa saja membunuhnya, walau bukan untuk dimakan. Meski begitu, cicak bukan tanpa persiapan menghadapi mangsa yang akan mengancamnya. Cicak memiliki ekor yang bisa terpotong dengan sendirinya saat bahaya mengancam. 

Mungkin kita berfikir, emang berfungsi yaaa cara seperti itu dengan hanya melepaskan ekor untuk mengelabuhi  musuh. Bagi kita seorang manusia mungkin iya, tidak bisa dibohongi dengan hanya memotong ekor nya. Tapi bagi hewan lain terlebih kucing, ekor cicak sangat berpengaruh untuk dijadikan kamuflase yang baik. Saat ekor cicak bergerak sendiri tanpa tubuh yang utuh, seekor kuning mungkin akan kebingungan dengan ekor bergerak sendiri tanpa tubuh yang utuh. Dan saat itu lah kesempatan cicak untuk melarikan diri.

Maka belajarlah dari cicak yang sabar, untuk mejalani hidup, walaupun makanan mereka adalah hewan yang terbang sedangkan mereka ada didinding tapi mereka sangat sabar menunggu mangsa datang dan mempunyai cara sendiri untuk menangkapya. Belajarlah dari cicak yang pemberani, untuk mencari sesuatu yang lebih besar harus punya effort yang besar pula. Juga seperti filosofi suku Batak belajarlah dari cicak untuk pintar beradaptasi dengan lingkungan.

Post a comment for "Belajarlah dari Seekor Cicak"