23/04/2018

Beberapa Negara yang Menerapkan e-Voting ( 2 )

Brazil

Brazil memulai dengan e-voting pada tahun 2000, dimana secara negeri samba ini mengimplementasikan nya  di seluruh wilayah negaranya. Brazil sendiri mengenalkan e-voting sejak tahun 1996 pada saat pemilu lokal saja dikota Santa Cataria. Kemudia setelah itu diperkenalkan pada pemilu nasional paa tahun 1998, kemudian berlanjut pada tahun 2000, 2002, 2004 dan seterusnya. Latarbelakang Brazil berani menggunakan teknologi voting antara lain aspek pertumbuhan ekonomi dan aspek pencegahan tindak kecurangan hasil pemilu.

Mesin  e-voting yang digunakan di Brazil merupakan sebuah mikro komputer yang didesain khusus untuk kepentingan pemilu. Secara fisik mesin ini tergolong kuat, berukuran kecil, ringan, tidak bergantung pada suplay listrik karena menggunakan baterai dan memiliki pengaman. Mesin ini memiliki dua bagian/unit, pertama pada panel kontrol yang dioperasikan oleh petugas TPS dan bagian yang kedua adalah panel pemungutan suara untuk para pemilih. 


Panel kontrol yang ada pada petugas TPS memiliki keypad yang terdiri angka-angka dimana keypad ini petugas mencatat nomor pendaftaran pemilih. Selain itu, terdapat juga layar untuk menampilkan nama pemilih ketika nomor pemilih telah diinput. Panel ini juga memiliki fitur identifikasi pemilih dengan teknologi biometric.

Direct Recording Voting Machine

Amerika 

Pada Pemilu tahun 2008 58% pemilih menggunakan surat suara dengan teknologi scan optik, yaitu sama dengan e-voting pada negara Philipina dengan memberikan tanda surat suara, 30% pemilih menggunakan mesin e-Voting dan 11% menggunakan bentuk teknologi lain. Pada pemilu 2012 terdapat 3 jenis utama teknologi dalam pemberian hak suara yaitu; menggunakan kertas suara yang dihitung dengan elektronik, surat suara elektronik dan alat elektronik pemberi tanda pada surat suara. 

Untuk pemilih yang menggunakan surat suara, pemilih menghitamkan tanda kotak/oval yang berada disebelah kiri nama kandidat dengan pensil atau ballpoint yang disediakan. Kemudian surat suara tersebut akan di scan denagn mesin scanner. Untuk pemilih yang menggunakan surat suara elektronik dilayani dengan mesin e-voting yang berbasis DRE (Direct Recording Electronic) yaitu mesin e-voting yang menggunakan layar sentuh. DRE diaktifkan dengan cara memasukan kartu pemilih yang sudah dimiliki pemilih atau dengan memasukan kode/nomoryang pemilih masukan.

Data yang diberikan oleh Internasional IDEA pada tahun 2011 menyebutkan bahwa penggunakan mesin e-voting dinegara bagian cenderung menurun, sedangkan data sebaliknya voting manual dengan menggunakan kertas pada negara bagian Amerika ini semakin meningkat. Pada tahun 2010 di dapatkan data bahwa 40 negara bagian telah bergerak dengan menggunakan kertas kembali.

|| Baca juga : Pengertian e-voting

DRE di Amerika

Australia

Untuk skala Pemilu nasional di Australia tidak pernah menggunakan e-voting, tetapi pada tahun 2006, 20010 dan 2012 negara bagian Victoria dan Canberra pernah uji coba menggunakan mesin voting. Alasan utama tidak di gunakannya e-voting di Australia adalah laporan komite yang menyatakan bahwa akan sangat besar biaya yang dikeluarkan untuk memastikan pemungutan suara berlangsung secara aman dan transparan untuk diterapkan secara meluas disetiap TPS. 

Maski tidak diimplemantasikan secara luas, negara bagian Victoria dan Australia Capital Territory (ACT) menerapkan teknologi untuk menghitung suara dan mengarsip surat suara. Negara tersebut menggunakan proses scanning, dimana kertas suara pemilih akan di scan dengan Intelegent Character Recognition Software.

Jerman

Jerman untuk pertama kali mempekenalkan e-voting pada tahun 1998 di Kota Collogne. Setelah dianggap berhasil pada tahun 1999 menggunaan e-voting dilakukan secara menyeluruh, hingga lebih banyak lagi kota-kota lain yang juga ikut menggunakan e-voting saat pemilihan umum. Pada tahun 2002, sebanyak 29 kota sudah menggunakan e-voting dalam pemilihan kandidat anggota DPR (Bundestag). Mesin yang digunakan adalah mesih layar sentuh yang di produksi oleh perusahaan Belanda, Nedap.

Kurang lebih 2 juta pemilih di Jerman menggunakan e-voting pada pemilu nasional tahun 2005. Pendapat masyarakat yang memilih terbilang baik tentang pelaksanaan voting dengan mesin, mereka berpendapat bahwa dengan e-voting mudah digunakan oleh pemilih atau oleh penyelenggara pemilu di TPS. 

Baca selengkapnya

22/04/2018

Beberapa Negara yang Menerapkan e-Voting ( 1 )

Berikut ini adalah negara-negara yang sudah menerapkan e-voting :

India

India sudah mengenalkan e-voting sejak tahun 1990 dengan melakukan cara uji coba pada pemilihan umum lokal di beberapa negara bagian. E-voting secara resmi dilakukan pada tahun 1998 untuk pemilihan anggota DPR di negara bagian Kerala. Secara Nasional India mulai menggunanya pada pemilihan umum tahun 2004. Sejak saat itu e-voting terus digunakan untuk pemilu tahun-tahun berikutnya secara konsisten. 

Teknologi yang digunakan India untuk e-voting yaitu dengan Electronic Voting Machine (EVM), dimana teknologi ini merupakan seperangkat mesin komputer yang sederhana yang merekam  pilihan pemilih tanpa menggunakan kertas suara. EVM ini ditempatkan disetiap  TPS, sampai saat tulisan ini dimuat EVM yang digunakan merupakan gerasi ketiga. Pada generasi ketiga ini menggunakan alat bukti kertas untuk setiap pemilih ketika mereka sudah memilih sebagai tanda bahwa sudah menggunakan hak pilihnya (VVPAT - the Voter Verified Paper Trail Audit).

|| Baca Juga : Pengertian e-Voting

Teknologi e-voting EVM memiliki dua bagian yang sudah terhubung satu sama lain, pada bagian pertama adalah unit kontrol yang akan digunakan oleh petugas pelaksana pemilihan. Sedangkan bagian yang lain adalah unit pemungutan suara yang digunakan oleh para pemilih untuk memilih pilihannya di bilik suara, nanti pemilih akan menekan tombol yang telah tertera nama kandidat dan logo partai politik.

http://www.waskhas.com/2018/04/negara-menerapkan-e-voting.html
EVM 

Kelemahan dari EVM ini adalah memiliki keterbatasan dalam merekam jumlah kandidat yang di tampilkan pada layar balloting unit atau layar yang diperuntukan untuk pemilih. Jadi jika suatu daerah pemilihan terdapat calon yang melebihi batas kemampuan rekam EVM, maka harus menggunakan 2 perangkat mesin EVM untuk dalam memenuhi calon yang ada di setiap bilik suara. 

Setelah pemungutan suara selesai, maka petugas akan membawa mesin tersebut di tempat perhitungan suara. Mesin EVM akan secara otomatis menghitung suara yang di peroleh kandidat masing-masing. Hasil dari perolehan perhitungan suara akan dapat di ketahui biasanya tiga sampai empat hari.

Belanda

Belanda memulai pemanfaatan teknologi dalam proses pemungutan suara dan perhitungan suara pada tahun 1950 an, kemudian pada tahun 1956 pemerintah Belanda mengeluarkan semacam undang-undang (The Electronic Act yaitu semacam peraturan perundang-undangan  yang memberi peluang untuk diperbolehkan nya mesin elektronik dalam pemilihan umum, untuk undang-undang yang mengatur secara khusus tentang pemilu adalah The Dutch Election Act.

|| Baca juga : Inisiatif Negara Eropa Mengatasi Digital Divide

Dengan banyak nya proses yang dihadapi akhir nya Belanda mengadakan pemilihan dengan menggunakan elektronik pada bulan Maret 2006, pemilihan itu terlaksana pada pemilihan anggota DPRD tingkat kota. Pemilihan tahun itu menggunakan dua mesin, yaitu Nedap dan Sdu. Mesin pemilihan milik Nedap menggunakan semacam komputer/laptop yang terdapat layar dan keyboard. Sedangkan mesin Sdu lebih kecil dari Nedap dan menggunakan layar sentuh, bukan tombol seperti pada Nedap.

http://www.waskhas.com/2018/04/negara-menerapkan-e-voting.html
Nedap ES3b Voting Computer
Proses perhitungan suara di TPS dilakukan secara otomatis oleh mesin dari kedua mesin Nedap dan Sdu. Setelah pengumutan selesai hasil pemungutan suara dikirim ke municipality dengan menggunakan jaringan internet. Tabulasi perhitungan suara dilakukan secara otomatis oleh mesin tersendiri.

|| Baca juga : Beberapa Negara yang menerapkan e-voting (2)

Philipina

Untuk pertama kalinya Philipina menggunakan IT dalam penerapan pemilihan dan perhitungan suara pada pemilu tahun 2010. KPU Philipina (COMELEC) memilih PCOS (sytem e-voting Philipina) untuk digunakan pada pemilu 2010. Sistem PCOS sendiri merupakan sistem perhitungan suara berdasarkan pada teknologi OMR (Optical Mark Recognation), setiap mesin dilengkapi dengan sebuah memory card dan iButton, sehingga hanya surat tertentu di TPS yang dapat discan. Surat suara yang sudah diberi tanda oleh pemilih dimasukan dalam mesin untuk discan. Mesin PCOS ini membaca tanda yang telah di berikan oleh pemilih, kemudian mesin akan mencetak laporan suara yang masuk ketika pemilihan umum sudah selelai terlaksana lalu dikirimkan hasil akhir total perhitungan suara ke kantor tabulasi tingkat kota.

http://www.waskhas.com/2018/04/negara-menerapkan-e-voting.html
Mesin PCOS








Baca selengkapnya

20/04/2018

E-Voting



Apa Tujuan E-Voting ?

Dalam sistem demokrasi, kekuatan politik berasal dari pemungutan suara rakyat. Dimana dalam proses nya, pemungutan suara berfokus untuk menghasilkan keputusan yang kolektif. Sistem voting yang demokrasi memberikan wakil untuk di pilih atau keputusan yang nantinya akan diambil/ dipilih oleh pemilih dengan legitimasi, yang mana hasil dari voting diakui dan diterima sebagai hak oleh pemilih.

Ada persyaratan untuk sistem pengumutan suara  yang bertujuan untuk meningkatkan integritas mereka, berikut adalah persyaratan / kriteria yang tercantum dalam tabel dibawah ini:

Requirements for voting systems (Mercurio 2004)
Memenuhi persyaratan ini melibatkan trade-off  pertimbangan antara ekonomi dan demokrasi. Sebagai contoh sederhana adalah dimana dengan meningkatnya jumlah kantor pemilihan sebenarnya akan dapat mengingkatkan kenyamanan bagi pemilih, akan tetapi disisi lain akan banyak dana yang dikeluarkan untuk melakukan pemilihan umum.


Apa itu E-Voting ?

E-Voting itu sendiri dapat diklasifikasikan dengan media dan tempat yang digunakan dalam pemilihan, lihat tabel dibawah ini :

Classification of voting system (Krimmer 2008)


Para pendukung demokrasi yang setuju dengan e-voting sangat memuji peluang besar untuk memilih dan menyerukan lebih banyak lagi elemen demokrasi secara langsung dalam berpolitik dan menentukan kebijakan. Dimana langkah ini adalah langkah menuju demokrasi Push-Button (Buchstein 2001) yang mengharuskan semua isu politik diputuskan dengan pemungutan suara dari masyarakat luas bukan suara wakil terpilih.

Selain itu pemungutan suara secara online akan menumbuhkan spontanitas pemilih, yang pada akhirnya pemilihan secara online akan menjadi sarana yang lebih baik untuk demokrasi. Jika seseorang ketika hendak memilih harus menuju tempat pemilihan umum, dan itu menjadikannya sebagai kendala. Maka dengan e-voting bisa meminimalkan seseorang untuk tidak memilih (golput).

|| Baca Juga : The Digital Divide

Sedangkan disisi lain bagi mereka yang tidak bersependapat, memaparkan alasan lebih mendalam. Yaitu ketidaksetaraan atau Digital Divide mengenai akses terhadap ICT masih menjadi masalah. Jika akses internet tidak didistribusi secara tidak merata, maka kesenjangan digital dapat dengan jelas memperkuat ketidaksetaraan antara mereka yang berpartisipasi dengan mereka yang tidak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan politik.

Masalah lain nya adalah perubahan budaya yang disebabkan oleh voting online, yang mana pemungutan suara tradisional bisa dikatakan sebagai pesta rakya dimana yang bisa juga dikatakan sebagai kesetaraan status sosial. Bagaimana tidak, untuk sesaat warga menikmati kedudukan yang sama tanpa memandang situasi sosial mereka, warna kulit, keyakinan atau pendidikan. Mereka akan berbondong-bondong dengan waktu yang relatif sama menuju tempat yang di tentukan untuk memilih calon pemilihan mereka masing-masing dan dapat bersama-sama menghitung suara sampai selesai.

Jadi untuk e-voting masih terdapat pro dan kontra, apakah lebih baik pemungutan online atau masih dengan pemungutan tradisional. Terlepas dari pendapat masing-masing yang mengatakan pro dan kontra, e-voting semakin meningkat dalam praktiknya. E-voting sudah digunakan oleh negara-negara maju dimana mereka telah membuktikan bahwa dengan pelaksanaan secara online pemungutan suara lebih memiliki manfaat yang banyak dari pada pemungutan dengan menggunakan kertas.

Baca selengkapnya

19/04/2018

Inisiatif Negara Eropa Mengatasi Digital Divide

Berikut ini adalah contoh dari proyek-proyek, dimana negara di eropa mengatasi Digital Divide sumber dari: Foundation of Digital Government/ Digital Divide.

Proyek: Inisiatif Hungaria "Click on It Grandma!"


http://www.waskhas.com/2018/04/negara-eropa-mengatasi-digital-divide.html


Proyek ini adalah sebuah proyek yang prakarsai oleh Budapest Cultural Center, dimana tujuan dari proyek ini adalah  untuk meningkatkan keterampilan digital orang di usia lanjut. Dilunjurkan pada tahun 2002, program ini pertama kali ditawarkan oleh Budapest dengan gagasan untuk memungkinkan warga Hungaria di usia lanjut dapat berpartisipasi penuh dalam ekonomi dan supaya kualitas hidup mereka dapat meningkat melalui pogram ini.

Pemrakarsa menekankan bahwa orang di usia lanjut cenderung kurang terbuka terhadap hal hal baru semisal teknologi, sebab itu lah diperlukan program yang mendidik untuk mereka dapat mengikuti perkembangan teknologi baru. Terdapat sepuluh kursus berbeda yang ditawarkan, dan pada pelatihan ini difokuskan pada bagaimana menulis e-mail, menjelajah website, mencari dan menemukan informasi yang berguna serta mengelolah file digital.


Selama dan setelah kursus, peserta dapat memiliki akses ke titik titik komputer secara gratis, sesi pelatihan dilakukan dengan menggunakan teks book yang dikembangkan secara khusus, pelatih profesional membantu selama pelatihan. Karena keberhasilanya, program ini diperluas dan di ubah menjadi program pendidikan nasional, yang di tawarkan di 12 kota yang berbeda di Hungaria. Sekira 1.200 warga usia lanjur menyelesaikan kursus ini ditahun 2007.

Proyek: ECDL Initiative di Austria

http://www.waskhas.com/2018/04/negara-eropa-mengatasi-digital-divide.html

European Computer Driving Licence (ECDL) adalah penerapan sertifikasi keaslian Teknologi Informasi dan Komunikasi  di Eropa. Program ini berusaha untuk meningkatkan ketrampilan Teknologi Informasi untuk penyandang cacat dengan bertujuan agar meraka dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan  kesadaran akan kebutuhan orang-orang cacat dikalangan masyarakat umum. Bahkan standar yang disediakan oleh yayasan ECDL disesuaikan untuk orang-orang dengan jenis cacat yang berbeda-beda, misalkan dengan output suara bagi tunanetra, mouse handsfree bagi orang yang lumpuh dan lain sebagainya.

Proyek: "Eldy in Piazza"

Untuk proyek ini (Eldy in Piaza) bertujuan untuk mendidik orang-orang daerah pedesaan bersama dengan komputer dan dapat mengakses internet. Diluncurkan oleh LMS Italy "Eldy" pada tahun 2009, pemrakarsa proyek ini mendidik dan memberikan pengetahuan luas tentang teknologi dengan menggunakan komputer juga dilengkapi materi-materi  pelatihan melalui kota-kota kecil di utara Italy. Edly menyatakan bahwa orang-orang yang berada di pedesaan  sering kekurangan akses internet dan jarang sekali menggunakan komputer, ini juga merupakan hasil dari keengganan untuk mencoba teknologi baru dalam budaya mereka.

Relawan dan pelatih profesional menawarkan sesi pelatihan gratis di platform yang telah di sesuaikan bagi pemula. Kursus Eldy menjelaskan kepada peserta bagaimana mereka mengirim e-mail, mengobrol dengan orang-orang melalui internet, menghubungi keluarga mereka dengan video call, bagaimana mengatur dokumen atau foto digital dan lain sebagainya.

Dalama dua dekade terakhir negara-negara anggota Eropa melakukan investasi besar untuk mengatasi ketidaksetaraan mengeanai akses terhadap teknologi inoformasi dan internet. Semoga ringkasan ini dapat menambah wawasan bagi para pembaca tentang Digital Divide. Untuk saran dan kritik bisa di sampaikan didalam komentar, sekian dan terimakasih

Baca selengkapnya

16/04/2018

The Digital Divide / Kesenjangan Digital

http://www.waskhas.com/2018/04/the-digital-divide-kesenjangan-digital.html

Mengapa digital divide penting ?


Para Ilmuan Sosial mengungkapkan bahwa ketidaksetaraan mengenai akses terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membatasi kemampuan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam Information Society, dimana dalam banyak aktivitas ekonomi, sosial dan politik TIK berperan banyak didalamnya. Semisal dalam aktivitas ekonomi, seseorang dapat memanfaatkan TIK sebagai media untuk mencari dan melamar pekerjaan. Di bidang sosial atau pendidikan yaitu adanya e-learning, dimana media ini dapat mencakup semua pembelajaran  dan pengajaran dengan baik untuk masyarakat luas. Selain bidang ekonomi dan sosial, TIK juga dapat memungkinkan seseorang dapat berpartisipasi atau terlibat langsung dalam  proses politik, dengan tujuan memperbaiki lingkungan sosial mereka.

TIK juga menciptakan ruang dimana aktivitas ekonomi terjadi sangat signifikan, pada aktivitas ini konsumen dapat memesan dan membayar layanan atau barang dengan mudah melalui komputer, smartphone atau media lainnya di rumah mereka masing-masing. Dapat di ambil kesimpulan bahwa tanpa akses TIK, kelompok yang kurang beruntung (yang tidak dapat mengakses TIK dengan baik) tidak dapat memiliki kebebasan untuk dapat terlibat banyak aktivitas yang telah disebutkan tadi. Maka dari itu lah di katakan bahwa digital divide (kesenjangan digital) itu penting.
       
Akankah fenomena digital divide akan hilang ?

Generasi saat ini adalah generasi digital, dimana generasi baru yang terlahir sudah di kelilingi oleh teknologi informasi yang beragam dalam aktivitas sehari-hari nya, baik dibidang ekonomi, sosial dan bahkan politik. Dengan pandangan ini lah dikatakan bahwa generasi digital yakni, kaum muda yang terlahir dengan sudah banyaknya teknologi digital dalam aktivitas keseharian mereka. Maka dengan sendiri nya fenomena digital divide akan  sirna seiring berjalan nya waktu (Roger 2003).

Namun pada kenyataan nya dari riset lain menyatakan bahwa generasi digital ini tidak begitu homogen, artinya tiap kaum muda akan sangat bervariasi secara signifikan dalam satu aktivitas dengan aktivitas lainnya yang dilakukan untuk dapat mengakses TIK. Diantara mereka memiliki tingkat kemampuan yang sangat berbeda dalam tingkat kemampuan menggunakan TIK dengan baik dan benar, sehingga kesenjangan antara meraka dengan tingkat kemampuan yang tinggi dan mereka yang memiliki tingkat kemampuan lebih rendah dalam menggunakan TIK akan benar-benar tertutup seingin berjalan nya waktu. Artinya pendapat di atas yang menyatakan bahwa fenomena digital divide akan sirna terbantahkan. Digital divide tidak terfokus hanya pada sarana saja, melainkan banyak aspek yang harus dibenahi oleh para pembuat kebijakan agar kesenjangan digital dapat berkurang. Salah satu motivation access yakni akses motivasi atau keinginan akan pemanfaatan terhadap TIK, yang akan di bahas di bawah ini.

|| Baca Juga : Inisiatif Negara Eropa Mengatasi Digital Divide

Apa itu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Teknologi Informasi dan Komunikasi / TIK (Information Communication and Technology / ICT ) bukan lah objek tetap, melainkan istilah yang lebih umum  yang disitu mencakup komputer, internet, middleware, perangkat lunak, penyimpanan dan banyak lagi. Menurut Selwyn 2004, salah satu solusi potensial untuk membahas digital divide tentang TIK berfokus pada konten dan layanan digital dari pada platform teknologi nya. Karena TIK hanya lah alat untuk mencapai tujuan tertentu (yaitu, mengakses konten dan layanan digital).

Aspek yang mempengaruhi seseorang untuk dapat mengakses TIK dengan tujuan kemanfaatannya sebagai berikut (Gambar 1)

http://www.waskhas.com/2018/04/the-digital-divide-kesenjangan-digital.html
Gambar 1

Dalam kerangka pada Gambar 1 menyatakan bahwa motivational access di tempatkan didepan material access, yang artinya keinginan atau motivasi lah yang harus di dahulukan untuk mendapatkan pemanfaatan TIK dari pada alat nya atau platform teknologi nya. Kemudian di ikuti oleh skill access atau akses keterampilan lalu usage access atau akses penggunaan. Artinya sebelum seseorang mendapatkan akses ke TIK, mereka harus terlebih dahulu menyadari bahwa untuk mengakses TIK apakah relevan dengan minat atau tujuan utama mereka. 

Langka-langkah untuk menilai ketrampilan TIK sangat bervariasi, Van Dijk (2006) membedakan tiga keterampilan dasar TIK :
  1. Keterampilan Operasional , keterampilan ini mengacu pada kemampuan untuk berkerja dengan menguji kemampuan orang untuk memulai komputer, membuka browser dan hanya mengakses informasi situs web.
  2. Keterampilan Informasi, keterampilan ini bisa dikatakan lebih baik dari keterampilan operasional. Karena pada tahan ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk mencari, memilih dan memproses informasi dari sumber tertentu.
  3. Keterampilan Strategis, keterampilan ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengekspreaikan diri secara kreatif dan tepat untuk menghasilkan konten dan layanan. Keterampilan ini lebih baik karena tidak hanya mencari dan memilih, tapi sudah pada tahan mengelolah dan menghasilkan konten atau layanan.

Dengan kemajuan digital tanpa di imbangi dengan mental serta motivasi akan pemanfaatan TIK maka kesenjangan antara mereka yang memiliki daya kemampuan yang lebih tinggi dengan mereka yang masih rendah akan tetap ada. Artinya kesenjangan digital memiliki konsekuensi yang cukup besar untuk pelaksanaan dan pengolahan layanan digital publik.

sumber : Foundation of Digital Government, chapter Digital Divide.
Baca selengkapnya